BELUM ADA KEPASTIAN RELOKASI DESA SUNGAI GULA


BELUM ADA KEPASTIAN RELOKASI DESA SUNGAI GULA



Kondisi rumah yang rusak akibat dilanda banjir 
di Desa Sungai Gula

MURUNG RAYA-Sering meluapnya Sungai Gula di Desa Sungai Gula, Kec. Permata Intan, Kab. Murung Raya menyebabkan banjir yang sering menenggelamkan rumah – rumah warga bahkan sebulan bisa mencapai empat kali.  Rencana relokasi desa dari pemerintah daerah yang di usulkan pihak desa sampai saat ini masih belum ada kepastian.

 “Dalam sebulan banjir bisa sampai 4 kali, susah juga kalau tidak ada relokasi, sudah sering mengusulkan untuk memindahkan desa tersebut, tapi selalu dijawab nanti, nanti dan nanti dari pihak kecamatan” tutur Ibu Isjiansyah, istri dari Kepala Desa, M. Isjiansyah pada hari Jum’at, 8 Juli 2012.

“Seringnya meluap Sungai Gula ini, disebabkan oleh bekas jalan perusahaan logging Tanjung Raya yang sudah tidak beroperasi lagi di sebelah hulu desa yang tidak ada reiklamasi berupa penanaman kembali pohon - pohon” kata salah seorang warga.

Meskipun sudah ada lokasi lebih tinggi dataranya yang direncanakan tempat pemindahan Desa Sungai Gula. Namun sampai saat ini warga Desa Sungai Gula  belum tahu kapan Desanya segera direlokasi oleh pihak pemerintah kecamatan, maupun kabupaten.

“Sudah terlalu sering pihak Desa mengusul segera direlokasi, hingga kami merasa malu juga jika terus meminta” terang Bu Kades. Desa Sungai Gula memang sejak tahun 80-an sudah sering dilanda banjir, namun beberapa tahun terakhir banjir yang terjadi sudah lebih parah.  Jika banjir datang, hampir 90% rumah – rumah warga terendam hingga setinggi dua meter.  

Selain Desa Sungai Gula, ada juga Desa Sungai Batang dan Desa Tumbang Salio yang mengalami permasalahan yang sama.  Kedua desa tersebut juga berada di Kecamatan Permata Intan, Kabupaten Murung Raya.Warga Desa Sungai Gula mengharapkan adanya perhatian dari Pemerintah Daerah atas permasalahan yang sedang mereka hadapi. Seringnya banjir melanda sangat menyulitkan warga. Ibu Isjiansyah mengatakan sudah sering memperbaiki rumahnya yang rusak oleh banjir. Tapi sulit juga jika banjir  terus menerus melanda Desa Sungai Gula.[A2nk]
 

Desa Olung Muro dan PT Indo Muro Kencana


Desa Olung Muro dan PT Indo Muro Kencana


Gerbang Selamat Datang Di Desa Olung Muro
Masih tentang Empat Hari Di Kab. Murung Raya. Setelah kemarin saya menulis tentang pengalaman selama empat hari di sana. Kali ini saya mencoba menuliskan hasil wawancara singkat dengan warga desa Olung Muro, Kec. Tanah Siang Selatan terkait hubungan desa tersebut dengan perusahaan pertambangan emas, PT Indo Muro Kencana.
Desa Olung Muro terletak di Kec. Tanah Siang Selatan Kab. Murung Raya, Kalimantan Tengah. Desa tersebut merupakan desa yang paling dekat dengan PT Indo Muro Kencana. Dengan otomatis desa Olung Muro merupakan desa yang paling sering bersentuhan langsung dengan kegiatan aktivitas perusahaan pertambangan tersebut.
Sedangkan PT Indo Muro Kencana merupakan salah satu tambang emas di Indonesia. PT Indo Muro Kencana adalah pertambangan emas terbesar di Kalimantan tengah yang wilayah operasinya mencakup 3 kecamatan, yaitu Kec. Tanah Siang Selatan, Kec. Murung dan Kec. Permata Intan.
Berangkat dari desa Tumbang Lahung, dan harus menyebrangi sungai, lalu masih 19 km melalui jalan tambang untuk sampai ke pusat operasi PT Indo Muro Kencana. Kemudian tidak sampai 1 km, terdapat sebuah desa, yaitu desa Olung Muro. Setelah sempat mengambil beberapa gambar aktivitas perusahaan, kami singgah di sebuah warung kopi milik salah satu ketua RT setempat. Beliau adalah ketua RT 2 di desa Olung Muro.
Setelah memesan kopi, obrolan dimulai. Pak RT awalnya bertanya tentang apa yang kami lakukan disini. Langsung saja aku jawab yaitu kedatangan kami untuk mendatangi dan mencari data tentang PT Indo Muro Kencana, salah satunya yaitu mengenai hubungan Perusahaan dengan Desa – desa di sekitar pertambangan. Mendengar apa yang saya sampaikan, beliau langsung mengutarakan pendapatnya. Menurutnya apa yang kami lakukan itu penting, karena orang – orang di luar sana harus tahu, khususnya pemerintah daerah. Bahwasanya warga desa Olung Muro disana hanya sebagai penonton. Datangnya perusahaan pertambangan ke daerah mereka, tidak memberikan dampak yang menguntungkan masyarakat desa Olung Muro. Contohnya seperti air bersih, atau semacam pembinaan masyarakat desapun sama sekali tidak ada. Jalan desapun dari dulu sama sekali tidak ada perhatian. Jangankan untuk mengaspal, untuk memperbaiki dengan cara mengeraskan struktur jalanpun mereka hanya meminta dari pemerintah daerah. Perampasan tanah, atau intimidasi bahkan penangkapan kepada masyarakat yang mengganggu asset perusahaan juga sudah sering terjadi.
Walaupun PT IMK terus melakukan perluasan, desa Olung Muro masih tidak mendapatkan apa – apa, hanya jadi sekedar penonton. Bapak tersebut berharap kepada mereka yang melakukan peninjauan harusnya langsung datang ke desa tersebut. Dan jangan hanya meninjau sekilas hanya tentang perusahaannya.
Hadirnya PT Indo Muro Kencana sangat tidak memberikan dampak yang baik kepada masyarakat desa Olung Muro. Masyarakat desa Olung Muro hanya sekedar menjadi penonton dan tidak mendapatkan apa – apa dari hasil kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Pak RT tersebut berharap ada perhatian yang lebih baik lagi terhadap desa Olung Muro khususnya dari PT Indo Muro Kencana dan Pemerintah, karena desa Olung Muro merupakan desa yang paling dekat dengan perusahaan tersebut yang sampai saat ini masih sangat tertinggal. [A'ank]

 

Empat Hari Di Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya


Empat Hari Di Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya


Senja yang menyambut kedatangan kami di Desa Tumbang Lahung
Kec. Permata Intan. kab Murung Raya
Pagi Itu Kamis 7 Juni 2012, Pukul 9.30 kami beangkat menungganggi si kuda besi dari Kota cantik Palangkaraya menuju Desa tumbang lahung Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya. Melewati Kab. Pulang Pisau, Kab. Gunung Mas, Kab. Kapuas. Tiga Jam Berjalan Kami Berhenti di Kuala Kurun Kab. Gunung Mas untuk sekedar istirahat. Perjalanan dilanjutkan, pukul 11.30 namun terhenti di penyebrangan Sei Hanyu, Kab. Kapuas. Menunggu Baja penyebrangan, dan antrian truck – truck perusahaan yang mau menyebrang.
Sambil menikmatai segelas kopi, tak terasa sudah jam 3.00 sore. Perjalanan pun kami lanjutkan. Diawali dengan menyebrang hulu sungai Kapuas itu, Desa Tumbang Lahung sekitar kurang lebih 58 kilometer jauhnya. Melintasi jalan – jalan Latritan, menaiki bukit – bukit khas daerah hulu, dan melintasi desa – desa yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Lantaran jalan yang kurang mulus, jalan latrit atau tanah liat. Beruntungnya cuaca masih kering, jadi tidak begitu menyulitkan. Namun butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai di simpang Tumbang lahung – Muara Teweh. Sesampainya di simpang tersebut, Desa Tumbang Lahung masih 7 kilometer, namun butuh waktu 1 jam melewati jalan tersebut, lantaran yang becek, beberapa kali motor kami terjebak dalam kubangan – kubangan lumpur. Akhirnya sekitar pukul 5.30 kami sampai di Desa. Mataku terkagum melihat Indahnya bukit – bukit dan matahari sore yang perlahan sembunyi di balik hijaunya hutan – hutan. Pertama kalinya aku melihat desa yang hidup diantara bukit, hutan dan sungai barito ini.
            Sesampainya di pusat desa, segera kami mencari penginapan. Lalu dapatlah sebuah losmen “Ramah Hidayat” tepat dipinggir sungai. Lelah setelah seharian di perjalanan dan badan yang sangat kotor penuh dengan lumpur tanah liat. Langsung saja aku menuju kamar mandi agar bias lekas beristirahat. Namun setelah mandi aku disuruh oleh bang Lutfi mencari air mineral dan bertanya soal penyewaan gitik dan soal desa di kec. Permata Intan ini yang kabarnya mau direlokasi. Setelah jalan kaki tak begitu jauh dari Losmen aku bertemu dengan seseorang yang rapi dengan baju piama, sarung dan kopiah si samping mesjid. Kumulai dengan pertanyaan tentang penyewaan gitik, dengan alasan mau melakukan penelitian mencari desa – desa yang mau direlokasi akibat banjir.  Setelah Tanya – Tanya, obrolan lebih banyak tentang desa – desa itu. Usut punya usut ternyata ada tiga desa yang masuk rencana relokasi menurut  informasi lelaki tersebut, yaitu Desa Sungai Gula, Sungai Batang dan Tumbang Saloi, tidak jauh dari ibu kota kecamatannya Desa tumbang Lahung. Setelah mendapatkan data – data tersebut aku langsung menuju warung untuk membeli air mineral dan kemudian kembali ke penginapan untuk istirahat.
            Pagi hari aku bangun sekitar pukul 5.30, aku sejenak duduk di teras losmen sambil menikmati segelas the hangat yang disiapkan pemilik losmen dan memandangi sungai, bukit dan aktifitas masyarakat desa. Ada yang mandi di tepian lanting, hulu – hilir kelotok dan lalu lalang anak – anak sekolah meramaikan pagi itu. Sekitar pukul 9.30 kami berangkat menuju wilayah aktifitas pertambangan PT Indo Muro Kencana. Sebelumnya harus menaiki kelotok dulu untuk menyebrang ke sana. Sesampainya di sebrang, masih ada sekitar 19 km menaiki sepeda motor untuk sampai ke pusat pertambangan.
            Jalan berbatu dan bukit – bukit tinggi menghiasi jalan. Sampailah di Dam PT IMK, sepertinya tempat pembuangan limbah pertambangan. Bersenjatakan kamera, aku abadikan gambar – gambar tentang DAM itu. Dan juga gambar – gambar pabrik, truck dan bangunan – bangunan milik PT IMK. Setelah selesai mengambil gambar, kami menuju warung kopi di desa Olung Moro Kec. Tanah Siang Selatan, desa terdekat dari pertambangan emas terbesar di Kalteng itu.Sesampainya di warung, mungkin karna melihat kami memakai motor trail dan sebuah kamera DSLR, penjaga warung tersebut bertanya, tentang kegiatan kami disini. Langsung saja kujawab bahwa kami sedang meneliti desa – desa di sekitar pertambangan khususnya PT Indo Muro Kencana ini. Langsung saja bapak itu mengutarakan pendapatnya, menurutnya masyarakat desa olung muro yang terdekat dari PT IMK ini hanya sebagai penonton. Sama sekali tidak ada dampak yang menguntungkan masyarakat. Bahkan untuk memperbaiki jalanpun mereka harus meminta kepada Pemda. Ada juga tanah masyarakat yang diserobot, dan bapak tersebut juga pernah dipenjara gara – gara membakar kebunnya dan api menjalat membakar slang milik perusahaan. Yang ditakutkan masyarakat sekitar juga tentang DAM yang jika jebol mungkin limbahnya akan sangat merugihan warga desa Olung Muro. Dulu pernah ada sarana untuk air bersih waktu kepemimpinan kepala desa yang sebelumnya, namun sekarang sudah tidak ada. Kepala desa yang sekarang dianggapnya malah lebih pro kepada perusahaan. Listrik tidak ada dan jalanpun masih memprihatinkan, padahal desaOlung Muro adalah desa yang paling dekat dan paling banyak bersentuhan dengan Aktifitas PT IMK. Mereka ingin agar orang – orang di kota khususnya pemerintah tahu bahwa datangnya perusahaan pertambangan tidak memberikan dampak yang baik kepada masyarakat desa Olung Muro.
            Setelah habis kopi, kami beranjak keliling desa Olung Muro untuk sekedar mengambil gambar. Kemudian kami langsung beranjak ke menuju desa Tumbang Lahung untuk menuju Desa Sungai Batang dan Sungai Gula. Pukul 2.00 kami berangkat dari Desa Tumbang Lahung menuju Desa Sungai Gula. Sesampainya di Desa Sungai gula kami bertemu dengan warge desa yang sedang ngobrol di depan rumahnya. Langsung saja kami bertanya dengan mereka tentang desa ini yang kabarnya sering dilanda banjir. Menurut mereka kabar itu memang benar adanya. Desa tersebut sering direndam banjir hingga setinggi kurang lebih 2 meter yang menenggelamkan rumah – rumah warga. Banjir tersebut disebabkan oleh Perusahaan Logging yang tidak melakukan reiklamasi setelah mereka berhenti beraktifitas. Hingga seringnya menyebabkan sungai meluap dan merendam desa Sungai Gula. Setelah sedikit ngobrol seorang warga mengajak kami keliling desa, mengambil gambar rumah – rumah yang usang akibat seringnya terendam banjir. Kami sempat berkunjung ke rumah kepala desanya, namun kepala desanya sedang berada di kecamatan, kami hanya ngobrol dengan istrinya. Waktu banjir yang terakhir kemarin, pihak desa sudah menghubungi kecamatan, agar pihak kecamatan percaya tentang banjir yang sangat merugikan warga tersebut. Wacana reiklamasi sudah lama di dengar dari pihak kecamatan namun sampai sekarang belum juga terlaksana. Warga masih menunggu realisasi rencana tersebut.  
            Jam Setengah lima sore kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Sore – sore kami ngobrol dengan Bapak Ramah, pemilik penginapan itu, kami bertanya soal penyewaan gitik untuk menuju Desa Ampar untuk melihat tambang Batu Bara disana. Kebetulan Pak Ramah punya kenalan warga yang mempunyai gitik yang bias mengantarkan kami kesana. Menurut pengalamannya, perjalanan menuju Desa Ampar memakan waktu 6 jam lewat sungai. Setelah sepakat dengan harga carteran, kami menyepakati besok pagi berangkat pukul 07.00 pagi. Setelah mandi dan makan, kami sejenak duduk di teras losmen menikmati segelas kopi dan kemudian beranjak tidur.
            Keesokan harinya pukul 7.30 kami berangkat dari desa tumbang lahung menaiki gitik. Sebelumnya kami membeli nasi bungkus buat bekal nantinya. Di dalam gitik, ada mertua dari bapak yang mengantarkan kami, dia menumpang sampai kebunnya yang tidak jauh dari desa Tumbang Lahung. Kami sempat bercerita sedikit di atas perahu. Menurut informasi darinya ada pertambangan batu bara, tapi masih jauh dari desa Ampar yang jadi tujuan kami. Tapi ia juga tidak tahu apakah ada atau tidak tambang yang dekat dengan Desa Ampar. Setelah mengantarkan beliau ke kebunnya kami melanjutkan perjalanan. Derasnya sungai, dan curamnya riam – riam yang terhampar, berpadu dengan lebatnya hutan, bukit, dan desa – desa yang hidup di bantaran hulu sungai barito. Sesampainya di desa Tumbang Kunyi kami istirahat sebentar sambil Tanya – Tanya dengan warga desa tersebut. Ternyata kabarnya ada pertambangan batu bara dan perusahaan kayu di desa tumbang tuan sebelum desa Ampar.
            Sebelum sampai desa Tumbang Tuan, kami menemui perusahaan kayu. Banyak kayu – kayu besar dan eksavator milik PT Kahayan Terang. Kayu – kayu besar hasil dari merambah hutan itu dihampar di pinggir sungai. Setelah mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan, namun kami dihadang oleh hujan dan memutuskan untuk berhenti untuk berteduh di sebuah dermaga di Desa Tumbang Tuan. Sambil menunggu hujan reda, kami mnikati bekal yang tadi pagi di siapkan. Sambul mengobrol dengan Bapak pemilik gitik tersebut, ternyata Tumbang Lahung artinya adalaha Tumbang itu Muara dan Lahung adalah semacam buah durian tapi Isi dagingnya berwarna merah, kalau sepengetahuan saya buah itu bernama buah paken.
Waktu menunjukan pukul 12.30, hujan yang lebat sempat mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan dan berpikir untuk kembali saja setelah reda, mengingat keadaan cuaca yang cukup membahayakan. Namun bapak yang sedari tadi mengemudikan gitik berinisiasi untuk bertanya kepada warga yang ada di desa Tumbang Tuan. Ternyata ada pertambangan yang tidak jauh dari desa tersebut, mungkin tidak sampai 5 menit menuju sana. Setelah mendapatkan kabar tersebut, berhubung hujan telah reda, segera saja kami menuju pertambangan itu.  Sesampainya di tujuan, diketahui petambangan tersebut milik PT Daya Bumindo Karunia yang ternyata belum ekspolitasi. Aktifitas yang ada masi dalam tahap pembangunan pabrik, mess dan bangunan lainnya yang menunjang kegiatan pertambangan. Kami sempat sedikit berbincang dengan satpam dan mengambil gambar terkait aktifitas perusahaan tersebut. Setelah selesai, kami kembali ke gitik untuk beranjak kembali menuju desa Tumbang lahung.
            Sekitar pukul 6.00 sore, kami sampai di desa Tumbang lahung dan langsung saja menuju ke penginapan. Rencana awal kami akan pulang ke palangkaraya hari itu juga, namun karna kami selesai sudah malam, maka diputuskan untuk pulang besok pagi saja. Sampai di losmen, kami langsung mandi dan istirahat sebentar. Ternyata ada penghuni baru di losmen tersebut, berhubung ada acara dangdutan di Desa Tumbang Lahung, mereka datang dari desa Tumbang Molut dan menginap di Losmen tersebut untuk sekedar menyaksikan acara hiburan yang diadakan oleh kecamatan. Saya sedikit mengobrol dengan mereka, menurut salah satu dari mereka ada juga pertambangan di seberang Desa tumbang Molut. Desa Tumbang Molut berada sebelum desa Tumbang Tuan kalau berangkat dari Desa Tumbang Lahung. Setelah makan dan kemudian kami beristirahat, supaya besok bias bangun pagi untuk segera pulang ke palangkaraya.
            Besok paginya kami bangun dan berangkat sekitar pukul 6.30 pagi. Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan di tempat ini. Aku berjanji suatu hari aku akan dating lagi ke tempat ini. Indahnya hutan – hutan yang membalut bukit – bukit dan dibelah oleh sungai – sungai menemani tentramnya desa – desa yang dihuni oleh orang yang ramah – ramah menjadi hal yang selalu aku ingat. Sekitar jam 10 kami sampai di penyebrangan Sei Hanyu, ternyata semalam terjadi peristiwa tenggelamnya kapal feri yang ditumpangi oleh sebuah truck poso. Pukul 11 kami sampai di Kota Kuala Kurun dan menyempatkan waktu untuk keliling kota tersebut. Akhirnya sekitar pukul 4 sore kami sampa di kota Palangkaraya. Lelah setelah menikmati perjalanan, setelah makan dan merapikan barang – barang aku langsung beranjak tidur. Mungkin banyak hal – hal yang tidak aku tulis, namun aku rasa tulisan ini sudah cukup menceritakan pengalaman yang telah aku alami.

…….Ramah Kehidupan Kecamatan Permata Intan, Dan Sejuknya Udara Yang Membelai Pemukiman Desa TumbangLahung, Atau Sungai Yang Menyapa Melintas Di Depan Kekagumanku, Menyamankan Posisi Diantara Belaian Dingin Angin Di Hulu Sungai Barito, Dan Pelukan Malam Bersama Bintangnya, Atau Senyum Manis Bunga - Bunga Desa Yang Kusapa Tadi Pagi, Anggun Dengan Seragam Sekolah Lengkap, Atau Bukit - Bukit Hijau Yang Berselimut Hutan Itu Menghiasi 3 Hari Aku Di Tempat Ini, Bersenjatakan Kamera Pelukis Keabadian, Dan Trail, Si Kuda Besi Berwarna Hijau Itu Aku Arungi Permata Intan, Menghampiri Dusun - Dusun Kecil, Bukit - Bukit Yang Menjulang, Atau Hutan - Hutan Yang Rimbun, Dan Berbagi Waktu Dengan Alam Kalimantan Yang Belum Pernah Kutemui Sebelumnya..........Tumbang Lahung, 8 Juni 2012, Muhammad Fachrul Ryannor
 

IBU, AKU BERSIMPUH


IBU, AKU BERSIMPUH
 Oleh Muhammad Fachrul Ryannor

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Perihal Bentangan Fajar Tak Berpijar
Bahwasanya Anakmu Yang Penuh Jerat
Di Bawah Bayang - Bayang Penyaji Luka

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Maafkan Aku Tak Slalu Kau Tau, Ibu
Aku Sedang Membangun Pondok Kehidupan
Mengumpulkan Lagi Patahnya Tangkai Harapan

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Kaku Melamu Dalam Jelaga Sesalku
Ijinkan Aku Mencium Jelatah Tanganmu
Jari - Jari Perkasa Yang Mengantarku Terbata

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Terpudar Oleh Tampakan Asa Menghujam
Kenyataan Tlah Bergurau Dengan Harapku
Tergetir Merindu Waktu Yang Lelah Memadam
 

SAKSI DRAMA


SAKSI DRAMA
Oleh Muhammad Fachrul Ryannor

Langit Meruncing Lekung Ke Ujung Senja
Menjadi Saksi Setiap Episode Drama Ini Kawan
Kita Kesatria Muda Di Pusat Peradaban Hari Ini Bertanya
Untuk Apa Kau Berjibaku Konyol Berebut Kuasa

Kayu - Kayu Berjatuhan Tertebang Dalam Hutan
Menjadi Detik Menegangkan Saat Kita Berpegangan
Namun Dari Menara Gading Kah Kita Akan Bertanya
Kemana Saudara - Saudara Saat Tak Punya Rasa Demi Kuasa

Angin Lembut Bersiul Menyanyikan Tentang Saudara
Mengapa Anda Ada Tanpa Garis Masa, Tanpa Realita, Tanpa Cita Karsa
Sekali Lagi Aku Mengecil Di Pojokan Menara Gading Ini
Maksud Baik Saudara - Saudara Untuk Siapa ????
 

Sistem Pendidikan Nasional


SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL



“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan Negara wajib membiayainya” (Pasal 31 UUD 1945)
Salah satu tujuan didirikannya Negara Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka, setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan Negara wajib membiayainya.

SEJARAH SINGKAT PENDIDIKAN INDONESIA
Ketika system kerajaan di Indonesia masih mendominasi di abad 15-16, pendidikan telah dikenal oleh masyarakat. Indikasinya bisa kita lihat dengan adanya sekolah budha di jaman sriwijaya. Pendidikan yang diberikan selain menyalurkan ilmu pengetahuan, juga ditujukan untuk melanggengkan kekuasaan para raja dan keturunanya. Pengetahuan tentang system pemerintahan, sastra-budaya, strategi perang, strategi penguasaan sumber-sumber ekonomi dan berbagai pengetahuanbagaimana mempertahankan kekuasaan adalah materi wajib yang diberikan kepada keturunan dan kerabat raja. Sedangkan rakyat biasa (rakyat jelata) tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam penyaluran kesempatan pengetahuan saat itu. kalaupun ada berbagai apresiasi budaya seperti tarian rakyat, hal itu bukanlah hasil transformasi pendidikan kepada rakyat, melainkan wujud pemberontakan rakyat terhadap system budaya yang diskriminatif dan eksploitatif.

FASE KOLONIALISME
Memasuki fase kolonialisme, kesempatan masyarakat dalam mengakses pendidikan masih sangat terbatas. Walaupun pemerintah colonial belanda melahirkan kebijakan politik etis diawal tahun 1900 atau politik balas budi yang didalamnya terdapat edukasi, irigasi dan transmigrasi. Pendidikan tetap tidak diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia, tetapi semata-mata untuk memperoleh tenaga kerja rendahan yang akan mengoperasionalkan pabrik-pabrik dan perkebunan modern serta mengisi pos-pos administrasi pemerintahan colonial. Dan sekolah-sekolah tersebut hanya dapat dinikmati oleh sebagian golongan saja- sesuai dengan stratifikasi social pemerintah colonial- hanya orang belanda, eropa, golongan indo, priyayi pribumi (Tuan Tanah) dan golongan asia timur jauh yang bias merasakan bangku sekolah. Berbagai sekolah pun dibuka, mulai dari sekolah keguruan hingga kejuruan. Tahun 1852 berdiri sekolah guru ( kweekschool) pertama di solo. Kemudian disusul dengan pendirian sejumlah sekolah sejenis; dibukit tinggi (1856), probolinggo dan bandung (1866), tanah batu (1862), sekolah dokter jawa (1851) dan dibuka sekolah mantra cacar (1849). Sekolah lain didirikan di tondaro (1873), ambonia (1874), banjarmasin (1875), makasar (1876), padang sidempuan (1879) dan di daerah indo timur.

Sekolah tinggi mulai dibuka di akhir abad 19 dan awal abad ke 20. tahun 1892 didirikan sekolah pamong praja (hoffden scholl) yang kemudian diganti dengan opelding school vor inlandsche ambtendaren (OSVIA) di tahun 1900 di magelang. Tahun 1902 didirikan STOVIA ( scholl tot oplerding van inlandsche artsen) yang kemudian menjadi NIAS (netherland indische artsen school) sebagai enbrio dari fakultas kedokteran. Kemudian disusul dengan rechtschool di tahun 1922 dan menjadi rechthoogen school pada tahun 1924 sebagai embrio dari fakultas hokum Universitas Indonesia. 

FASE PRA-KEMERDEKAAN
Menyadari bahwa pemerintahan colonial sangat diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagian kaum pribumi berinisiatif untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi masyarakat luas. Tahun 1922, didirikan taman siswa (tamsis) oleh ki hajar dewantara, yang memberikan pendidikan budi pekerti dan semangat kebangsaan. Kyai haji ahmad dahlan juga mendirikan sekolah muhammadiyah kemudian di tahun 1919 sarekat islam mendirikan sekolah yang didirikan oleh alm. Tan malaka di semarang. Bekal ilmu pengetahuan yang dimilik oleh kaum muda terpelajar, menggugah kesadarannya atas penindasan kolonialisme belanda. Kaum muda terpelajar meleburkan dirinya di tengah rakyat dan mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan. Keterlibatan kaum muda terpelajar tercermin dengan bangkitnya “pergerakan nasional”. Kum muda terpelajar juga memiliki andil besar didalam lahirnya organisasi-organisasi politik moderen di Indonesia. Kaum muda terpelajar juga mampu membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air melalui peristiwa Sumpah Pemuda ditahun 1928, hingga peranannya didalam proses menuju proklamasi 17 Agustus 1945. Dan pendidikan yang dilakukan oleh kaum muda terpelajar pada saat ini diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia atas penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh pemerintah colonial dan menuju Indonesia yang merdeka.

FASE KEMERDEKAAN (ORDE LAMA)

Paska proklamasi 17 agustus 1945, pemerintah berupaya untuk membangun infrastruktur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Tanggal 19 Agustus 1945pemerintah Indonesia mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI yang kemudian mendorong berdirinya Universitas Indonesia. Tanggal 19 desember 1949 pemerintah mendirikan Universitas Gadjah Mada. Dua universiotas ini kemudian dikembangkan menjadi lima perguruan tinggi dengan hadirnya ITB (1959), IPB (1963) dan Unair (1964). Sementara UII Jogjakarta yang berdiri tahun 1948 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan paling tua di Indonesia. Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) juga didirikan. Hal ini untuk membuka akses secara luas kepada masyarakat untuk bersekolah.

FASE ORDE BARU: AWAL KEHANCURAN KEMBALI INDONESIA.

Naiknya rezim fasis otoriter boneka imperialis Orde Baru tidak lantas membuat pendidikan di Indonesia semakin membaik.ditingkat perguruan tinggi, represifitas Negara menjadi ancaman serius atas demokratisasi di kampus. Lahirnya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK BKK) yang mengakibatkan pemberangusan terhadap DeMa, pembredelan press mahasiswa, penculikan bahkan pembunuhan ternadap para aktivis. Kampus berada dibawah control Negara lewat Rektorat/dekanat dan senat mahasiswa perguruan tinggi (SMPT). Aktivitas kampus diubah menjadi sekedar hobby seperti hadirnya UKM-UKM musik, olahraga dan lain-lain. Ormas mahsiawa dan pemuda juga dikontrol oleh Negara secara ketat.
Ilmu pengetahuan pada masa ini diarahkan atas nama pembangunan yang sesungguhnya bertujuan untuk menopang kelancaran operasional pereusahaan-perusahaan imperialis dan melanggengkan kekuasaan orde baru. Yang kurikulumnya diarahkan untuk kepentingan pasar.

Seperti, Pengacara diarahkan untuk mengabdi pada uang demi membela penguasa yang korup. Arsitek diarahkan untuk membangun gedung-gedung pencakar langit diatas tanah rakyat yang DIGUSUR. Ekonom diarahkan untuk gencar menerapkan kebijakan pembangunan orde baru yang memperlebar jurang kemiskinan.

FASE REFORMASI : LIBERALISASI PENDIDIKAN.

Pasca jtuhnya rezim otoriter boneka Imperialis orde baru Asoeharto, pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan. Lahirnya PP No. 60 dan 61 tahun 1999 adalah imbas dari keterlibatan Indonesia masuk menjadi keanggotaan WTO ditahun 1999 yang mengakibatkan arusprivatisasi dan pem-BHMN-an kampus-kampus negeri di Indonesia.
World trade Organization (WTO) dalam GATS-nya menyatakan bahwa “pendidikan dan kesehatan termasuk salah satu dari 11 sektor jasa lainya yang akan diperjual belikan”. Disusul dengan lahirnya UU SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) ditahun 2003 semakin menunjukkan bahwa pendidikan adalah barang yang lux (mewah) yang sangat sulit diakses oleh masyarakat luas. Belum lagi ditambah dengan tidak direalisasikannya anggaran 20% dari APBN dan APBD untuk sector pendidikan oleh pemerintah adalah bukti bahwa pemerintah sudahj tidak memperdulikan sektor pendidikan. 

PENDIDIKAN HARI INI : PENDIDIKAN YANG TIDAK ILMIAH, TIDAK DEMOKRATIS DAN TIDAK DIARAHKAN UNTUK MENGABDI KEPADA MASYARAKAT.

Pendidikan yang tidak ilmiah adalah pendidikan yang tidak berangkat dari kondisi objektif masyarakat Indonesia hari ini. Pendidikan yang mengadopsi teori-teori klasik dari barat mengakibatkan mahasiawa adalah klas tersendiri didalam masyarakat. Pendidikan ketrap dijadikan alat dominasi yang dimanfaatkan untuk penjinakan atau penindasan secara sistematik. Seperti, 
1. Guru atau Dosen menanamkan kesadran yang keliru kepada siswa dengan melkaukan tindakan manipulasi atas sejarah masyarakat Indonesia.
2. Pendekatan dalam pendidikannya bersifat persfektif bukan dialogis.
3. Sekedar transfer nilai /ilmu.
Dibalik megahnya kampus dan mahalnya biaya pendidikan ternyata hak-hak demokratis mahasiswa masih sangat minim. Masih dikekangnya kebebasan berorganisasi di kampus, tidak difungsikan secara maksimal fasiltas yang disediakan, minimnya fsilitas, Pelayanan Tata Usaha yang berbelit-belit serta tidak dilibatkannya mahsiswa sebagai unsur mayoritas dikampus dalam setiap pengambilan kebijakan adalah bukti KONGKRET bahwa kampus  hari ini telah merampas hak-hak demokratis kita dikampus!!!!!

Pendidikan yang Ilmiah, Demokratis dan Mengabdi Kepada Rakyat adalah Solusi atas kondisi pendidikan di Indonesia.
Pendidikan haruslah berangkat darikondisi objektif persoalan masyarakat Indonesia dan diarahkan untuk menyelesaikan segala persoalan di negeri ini. Tentunya peran dosen dan mahasiswa itu sama-sama subjek yang berprilaku aktif didalam menganalisa segala persoalan yang ada di negeri ini untuk merubahnya kearah yang lebih baik. Dan kebijakan kampus haruslah berpihak kepada unsur mayoritas di kampus yaitu mahasiswa.

 
Umur Bukan Rintisan Angka, Tapi Ukiran Aksara....