BELUM ADA KEPASTIAN RELOKASI DESA SUNGAI GULA


BELUM ADA KEPASTIAN RELOKASI DESA SUNGAI GULA



Kondisi rumah yang rusak akibat dilanda banjir 
di Desa Sungai Gula

MURUNG RAYA-Sering meluapnya Sungai Gula di Desa Sungai Gula, Kec. Permata Intan, Kab. Murung Raya menyebabkan banjir yang sering menenggelamkan rumah – rumah warga bahkan sebulan bisa mencapai empat kali.  Rencana relokasi desa dari pemerintah daerah yang di usulkan pihak desa sampai saat ini masih belum ada kepastian.

 “Dalam sebulan banjir bisa sampai 4 kali, susah juga kalau tidak ada relokasi, sudah sering mengusulkan untuk memindahkan desa tersebut, tapi selalu dijawab nanti, nanti dan nanti dari pihak kecamatan” tutur Ibu Isjiansyah, istri dari Kepala Desa, M. Isjiansyah pada hari Jum’at, 8 Juli 2012.

“Seringnya meluap Sungai Gula ini, disebabkan oleh bekas jalan perusahaan logging Tanjung Raya yang sudah tidak beroperasi lagi di sebelah hulu desa yang tidak ada reiklamasi berupa penanaman kembali pohon - pohon” kata salah seorang warga.

Meskipun sudah ada lokasi lebih tinggi dataranya yang direncanakan tempat pemindahan Desa Sungai Gula. Namun sampai saat ini warga Desa Sungai Gula  belum tahu kapan Desanya segera direlokasi oleh pihak pemerintah kecamatan, maupun kabupaten.

“Sudah terlalu sering pihak Desa mengusul segera direlokasi, hingga kami merasa malu juga jika terus meminta” terang Bu Kades. Desa Sungai Gula memang sejak tahun 80-an sudah sering dilanda banjir, namun beberapa tahun terakhir banjir yang terjadi sudah lebih parah.  Jika banjir datang, hampir 90% rumah – rumah warga terendam hingga setinggi dua meter.  

Selain Desa Sungai Gula, ada juga Desa Sungai Batang dan Desa Tumbang Salio yang mengalami permasalahan yang sama.  Kedua desa tersebut juga berada di Kecamatan Permata Intan, Kabupaten Murung Raya.Warga Desa Sungai Gula mengharapkan adanya perhatian dari Pemerintah Daerah atas permasalahan yang sedang mereka hadapi. Seringnya banjir melanda sangat menyulitkan warga. Ibu Isjiansyah mengatakan sudah sering memperbaiki rumahnya yang rusak oleh banjir. Tapi sulit juga jika banjir  terus menerus melanda Desa Sungai Gula.[A2nk]
 

Desa Olung Muro dan PT Indo Muro Kencana


Desa Olung Muro dan PT Indo Muro Kencana


Gerbang Selamat Datang Di Desa Olung Muro
Masih tentang Empat Hari Di Kab. Murung Raya. Setelah kemarin saya menulis tentang pengalaman selama empat hari di sana. Kali ini saya mencoba menuliskan hasil wawancara singkat dengan warga desa Olung Muro, Kec. Tanah Siang Selatan terkait hubungan desa tersebut dengan perusahaan pertambangan emas, PT Indo Muro Kencana.
Desa Olung Muro terletak di Kec. Tanah Siang Selatan Kab. Murung Raya, Kalimantan Tengah. Desa tersebut merupakan desa yang paling dekat dengan PT Indo Muro Kencana. Dengan otomatis desa Olung Muro merupakan desa yang paling sering bersentuhan langsung dengan kegiatan aktivitas perusahaan pertambangan tersebut.
Sedangkan PT Indo Muro Kencana merupakan salah satu tambang emas di Indonesia. PT Indo Muro Kencana adalah pertambangan emas terbesar di Kalimantan tengah yang wilayah operasinya mencakup 3 kecamatan, yaitu Kec. Tanah Siang Selatan, Kec. Murung dan Kec. Permata Intan.
Berangkat dari desa Tumbang Lahung, dan harus menyebrangi sungai, lalu masih 19 km melalui jalan tambang untuk sampai ke pusat operasi PT Indo Muro Kencana. Kemudian tidak sampai 1 km, terdapat sebuah desa, yaitu desa Olung Muro. Setelah sempat mengambil beberapa gambar aktivitas perusahaan, kami singgah di sebuah warung kopi milik salah satu ketua RT setempat. Beliau adalah ketua RT 2 di desa Olung Muro.
Setelah memesan kopi, obrolan dimulai. Pak RT awalnya bertanya tentang apa yang kami lakukan disini. Langsung saja aku jawab yaitu kedatangan kami untuk mendatangi dan mencari data tentang PT Indo Muro Kencana, salah satunya yaitu mengenai hubungan Perusahaan dengan Desa – desa di sekitar pertambangan. Mendengar apa yang saya sampaikan, beliau langsung mengutarakan pendapatnya. Menurutnya apa yang kami lakukan itu penting, karena orang – orang di luar sana harus tahu, khususnya pemerintah daerah. Bahwasanya warga desa Olung Muro disana hanya sebagai penonton. Datangnya perusahaan pertambangan ke daerah mereka, tidak memberikan dampak yang menguntungkan masyarakat desa Olung Muro. Contohnya seperti air bersih, atau semacam pembinaan masyarakat desapun sama sekali tidak ada. Jalan desapun dari dulu sama sekali tidak ada perhatian. Jangankan untuk mengaspal, untuk memperbaiki dengan cara mengeraskan struktur jalanpun mereka hanya meminta dari pemerintah daerah. Perampasan tanah, atau intimidasi bahkan penangkapan kepada masyarakat yang mengganggu asset perusahaan juga sudah sering terjadi.
Walaupun PT IMK terus melakukan perluasan, desa Olung Muro masih tidak mendapatkan apa – apa, hanya jadi sekedar penonton. Bapak tersebut berharap kepada mereka yang melakukan peninjauan harusnya langsung datang ke desa tersebut. Dan jangan hanya meninjau sekilas hanya tentang perusahaannya.
Hadirnya PT Indo Muro Kencana sangat tidak memberikan dampak yang baik kepada masyarakat desa Olung Muro. Masyarakat desa Olung Muro hanya sekedar menjadi penonton dan tidak mendapatkan apa – apa dari hasil kekayaan alam yang ada di wilayahnya. Pak RT tersebut berharap ada perhatian yang lebih baik lagi terhadap desa Olung Muro khususnya dari PT Indo Muro Kencana dan Pemerintah, karena desa Olung Muro merupakan desa yang paling dekat dengan perusahaan tersebut yang sampai saat ini masih sangat tertinggal. [A'ank]

 

Empat Hari Di Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya


Empat Hari Di Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya


Senja yang menyambut kedatangan kami di Desa Tumbang Lahung
Kec. Permata Intan. kab Murung Raya
Pagi Itu Kamis 7 Juni 2012, Pukul 9.30 kami beangkat menungganggi si kuda besi dari Kota cantik Palangkaraya menuju Desa tumbang lahung Kec. Permata Intan Kab. Murung Raya. Melewati Kab. Pulang Pisau, Kab. Gunung Mas, Kab. Kapuas. Tiga Jam Berjalan Kami Berhenti di Kuala Kurun Kab. Gunung Mas untuk sekedar istirahat. Perjalanan dilanjutkan, pukul 11.30 namun terhenti di penyebrangan Sei Hanyu, Kab. Kapuas. Menunggu Baja penyebrangan, dan antrian truck – truck perusahaan yang mau menyebrang.
Sambil menikmatai segelas kopi, tak terasa sudah jam 3.00 sore. Perjalanan pun kami lanjutkan. Diawali dengan menyebrang hulu sungai Kapuas itu, Desa Tumbang Lahung sekitar kurang lebih 58 kilometer jauhnya. Melintasi jalan – jalan Latritan, menaiki bukit – bukit khas daerah hulu, dan melintasi desa – desa yang belum pernah kudatangi sebelumnya. Lantaran jalan yang kurang mulus, jalan latrit atau tanah liat. Beruntungnya cuaca masih kering, jadi tidak begitu menyulitkan. Namun butuh waktu sekitar 3,5 jam untuk sampai di simpang Tumbang lahung – Muara Teweh. Sesampainya di simpang tersebut, Desa Tumbang Lahung masih 7 kilometer, namun butuh waktu 1 jam melewati jalan tersebut, lantaran yang becek, beberapa kali motor kami terjebak dalam kubangan – kubangan lumpur. Akhirnya sekitar pukul 5.30 kami sampai di Desa. Mataku terkagum melihat Indahnya bukit – bukit dan matahari sore yang perlahan sembunyi di balik hijaunya hutan – hutan. Pertama kalinya aku melihat desa yang hidup diantara bukit, hutan dan sungai barito ini.
            Sesampainya di pusat desa, segera kami mencari penginapan. Lalu dapatlah sebuah losmen “Ramah Hidayat” tepat dipinggir sungai. Lelah setelah seharian di perjalanan dan badan yang sangat kotor penuh dengan lumpur tanah liat. Langsung saja aku menuju kamar mandi agar bias lekas beristirahat. Namun setelah mandi aku disuruh oleh bang Lutfi mencari air mineral dan bertanya soal penyewaan gitik dan soal desa di kec. Permata Intan ini yang kabarnya mau direlokasi. Setelah jalan kaki tak begitu jauh dari Losmen aku bertemu dengan seseorang yang rapi dengan baju piama, sarung dan kopiah si samping mesjid. Kumulai dengan pertanyaan tentang penyewaan gitik, dengan alasan mau melakukan penelitian mencari desa – desa yang mau direlokasi akibat banjir.  Setelah Tanya – Tanya, obrolan lebih banyak tentang desa – desa itu. Usut punya usut ternyata ada tiga desa yang masuk rencana relokasi menurut  informasi lelaki tersebut, yaitu Desa Sungai Gula, Sungai Batang dan Tumbang Saloi, tidak jauh dari ibu kota kecamatannya Desa tumbang Lahung. Setelah mendapatkan data – data tersebut aku langsung menuju warung untuk membeli air mineral dan kemudian kembali ke penginapan untuk istirahat.
            Pagi hari aku bangun sekitar pukul 5.30, aku sejenak duduk di teras losmen sambil menikmati segelas the hangat yang disiapkan pemilik losmen dan memandangi sungai, bukit dan aktifitas masyarakat desa. Ada yang mandi di tepian lanting, hulu – hilir kelotok dan lalu lalang anak – anak sekolah meramaikan pagi itu. Sekitar pukul 9.30 kami berangkat menuju wilayah aktifitas pertambangan PT Indo Muro Kencana. Sebelumnya harus menaiki kelotok dulu untuk menyebrang ke sana. Sesampainya di sebrang, masih ada sekitar 19 km menaiki sepeda motor untuk sampai ke pusat pertambangan.
            Jalan berbatu dan bukit – bukit tinggi menghiasi jalan. Sampailah di Dam PT IMK, sepertinya tempat pembuangan limbah pertambangan. Bersenjatakan kamera, aku abadikan gambar – gambar tentang DAM itu. Dan juga gambar – gambar pabrik, truck dan bangunan – bangunan milik PT IMK. Setelah selesai mengambil gambar, kami menuju warung kopi di desa Olung Moro Kec. Tanah Siang Selatan, desa terdekat dari pertambangan emas terbesar di Kalteng itu.Sesampainya di warung, mungkin karna melihat kami memakai motor trail dan sebuah kamera DSLR, penjaga warung tersebut bertanya, tentang kegiatan kami disini. Langsung saja kujawab bahwa kami sedang meneliti desa – desa di sekitar pertambangan khususnya PT Indo Muro Kencana ini. Langsung saja bapak itu mengutarakan pendapatnya, menurutnya masyarakat desa olung muro yang terdekat dari PT IMK ini hanya sebagai penonton. Sama sekali tidak ada dampak yang menguntungkan masyarakat. Bahkan untuk memperbaiki jalanpun mereka harus meminta kepada Pemda. Ada juga tanah masyarakat yang diserobot, dan bapak tersebut juga pernah dipenjara gara – gara membakar kebunnya dan api menjalat membakar slang milik perusahaan. Yang ditakutkan masyarakat sekitar juga tentang DAM yang jika jebol mungkin limbahnya akan sangat merugihan warga desa Olung Muro. Dulu pernah ada sarana untuk air bersih waktu kepemimpinan kepala desa yang sebelumnya, namun sekarang sudah tidak ada. Kepala desa yang sekarang dianggapnya malah lebih pro kepada perusahaan. Listrik tidak ada dan jalanpun masih memprihatinkan, padahal desaOlung Muro adalah desa yang paling dekat dan paling banyak bersentuhan dengan Aktifitas PT IMK. Mereka ingin agar orang – orang di kota khususnya pemerintah tahu bahwa datangnya perusahaan pertambangan tidak memberikan dampak yang baik kepada masyarakat desa Olung Muro.
            Setelah habis kopi, kami beranjak keliling desa Olung Muro untuk sekedar mengambil gambar. Kemudian kami langsung beranjak ke menuju desa Tumbang Lahung untuk menuju Desa Sungai Batang dan Sungai Gula. Pukul 2.00 kami berangkat dari Desa Tumbang Lahung menuju Desa Sungai Gula. Sesampainya di Desa Sungai gula kami bertemu dengan warge desa yang sedang ngobrol di depan rumahnya. Langsung saja kami bertanya dengan mereka tentang desa ini yang kabarnya sering dilanda banjir. Menurut mereka kabar itu memang benar adanya. Desa tersebut sering direndam banjir hingga setinggi kurang lebih 2 meter yang menenggelamkan rumah – rumah warga. Banjir tersebut disebabkan oleh Perusahaan Logging yang tidak melakukan reiklamasi setelah mereka berhenti beraktifitas. Hingga seringnya menyebabkan sungai meluap dan merendam desa Sungai Gula. Setelah sedikit ngobrol seorang warga mengajak kami keliling desa, mengambil gambar rumah – rumah yang usang akibat seringnya terendam banjir. Kami sempat berkunjung ke rumah kepala desanya, namun kepala desanya sedang berada di kecamatan, kami hanya ngobrol dengan istrinya. Waktu banjir yang terakhir kemarin, pihak desa sudah menghubungi kecamatan, agar pihak kecamatan percaya tentang banjir yang sangat merugikan warga tersebut. Wacana reiklamasi sudah lama di dengar dari pihak kecamatan namun sampai sekarang belum juga terlaksana. Warga masih menunggu realisasi rencana tersebut.  
            Jam Setengah lima sore kami kembali ke penginapan untuk istirahat. Sore – sore kami ngobrol dengan Bapak Ramah, pemilik penginapan itu, kami bertanya soal penyewaan gitik untuk menuju Desa Ampar untuk melihat tambang Batu Bara disana. Kebetulan Pak Ramah punya kenalan warga yang mempunyai gitik yang bias mengantarkan kami kesana. Menurut pengalamannya, perjalanan menuju Desa Ampar memakan waktu 6 jam lewat sungai. Setelah sepakat dengan harga carteran, kami menyepakati besok pagi berangkat pukul 07.00 pagi. Setelah mandi dan makan, kami sejenak duduk di teras losmen menikmati segelas kopi dan kemudian beranjak tidur.
            Keesokan harinya pukul 7.30 kami berangkat dari desa tumbang lahung menaiki gitik. Sebelumnya kami membeli nasi bungkus buat bekal nantinya. Di dalam gitik, ada mertua dari bapak yang mengantarkan kami, dia menumpang sampai kebunnya yang tidak jauh dari desa Tumbang Lahung. Kami sempat bercerita sedikit di atas perahu. Menurut informasi darinya ada pertambangan batu bara, tapi masih jauh dari desa Ampar yang jadi tujuan kami. Tapi ia juga tidak tahu apakah ada atau tidak tambang yang dekat dengan Desa Ampar. Setelah mengantarkan beliau ke kebunnya kami melanjutkan perjalanan. Derasnya sungai, dan curamnya riam – riam yang terhampar, berpadu dengan lebatnya hutan, bukit, dan desa – desa yang hidup di bantaran hulu sungai barito. Sesampainya di desa Tumbang Kunyi kami istirahat sebentar sambil Tanya – Tanya dengan warga desa tersebut. Ternyata kabarnya ada pertambangan batu bara dan perusahaan kayu di desa tumbang tuan sebelum desa Ampar.
            Sebelum sampai desa Tumbang Tuan, kami menemui perusahaan kayu. Banyak kayu – kayu besar dan eksavator milik PT Kahayan Terang. Kayu – kayu besar hasil dari merambah hutan itu dihampar di pinggir sungai. Setelah mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan, namun kami dihadang oleh hujan dan memutuskan untuk berhenti untuk berteduh di sebuah dermaga di Desa Tumbang Tuan. Sambil menunggu hujan reda, kami mnikati bekal yang tadi pagi di siapkan. Sambul mengobrol dengan Bapak pemilik gitik tersebut, ternyata Tumbang Lahung artinya adalaha Tumbang itu Muara dan Lahung adalah semacam buah durian tapi Isi dagingnya berwarna merah, kalau sepengetahuan saya buah itu bernama buah paken.
Waktu menunjukan pukul 12.30, hujan yang lebat sempat mengurungkan niat untuk melanjutkan perjalanan dan berpikir untuk kembali saja setelah reda, mengingat keadaan cuaca yang cukup membahayakan. Namun bapak yang sedari tadi mengemudikan gitik berinisiasi untuk bertanya kepada warga yang ada di desa Tumbang Tuan. Ternyata ada pertambangan yang tidak jauh dari desa tersebut, mungkin tidak sampai 5 menit menuju sana. Setelah mendapatkan kabar tersebut, berhubung hujan telah reda, segera saja kami menuju pertambangan itu.  Sesampainya di tujuan, diketahui petambangan tersebut milik PT Daya Bumindo Karunia yang ternyata belum ekspolitasi. Aktifitas yang ada masi dalam tahap pembangunan pabrik, mess dan bangunan lainnya yang menunjang kegiatan pertambangan. Kami sempat sedikit berbincang dengan satpam dan mengambil gambar terkait aktifitas perusahaan tersebut. Setelah selesai, kami kembali ke gitik untuk beranjak kembali menuju desa Tumbang lahung.
            Sekitar pukul 6.00 sore, kami sampai di desa Tumbang lahung dan langsung saja menuju ke penginapan. Rencana awal kami akan pulang ke palangkaraya hari itu juga, namun karna kami selesai sudah malam, maka diputuskan untuk pulang besok pagi saja. Sampai di losmen, kami langsung mandi dan istirahat sebentar. Ternyata ada penghuni baru di losmen tersebut, berhubung ada acara dangdutan di Desa Tumbang Lahung, mereka datang dari desa Tumbang Molut dan menginap di Losmen tersebut untuk sekedar menyaksikan acara hiburan yang diadakan oleh kecamatan. Saya sedikit mengobrol dengan mereka, menurut salah satu dari mereka ada juga pertambangan di seberang Desa tumbang Molut. Desa Tumbang Molut berada sebelum desa Tumbang Tuan kalau berangkat dari Desa Tumbang Lahung. Setelah makan dan kemudian kami beristirahat, supaya besok bias bangun pagi untuk segera pulang ke palangkaraya.
            Besok paginya kami bangun dan berangkat sekitar pukul 6.30 pagi. Sebuah pengalaman yang tidak terlupakan di tempat ini. Aku berjanji suatu hari aku akan dating lagi ke tempat ini. Indahnya hutan – hutan yang membalut bukit – bukit dan dibelah oleh sungai – sungai menemani tentramnya desa – desa yang dihuni oleh orang yang ramah – ramah menjadi hal yang selalu aku ingat. Sekitar jam 10 kami sampai di penyebrangan Sei Hanyu, ternyata semalam terjadi peristiwa tenggelamnya kapal feri yang ditumpangi oleh sebuah truck poso. Pukul 11 kami sampai di Kota Kuala Kurun dan menyempatkan waktu untuk keliling kota tersebut. Akhirnya sekitar pukul 4 sore kami sampa di kota Palangkaraya. Lelah setelah menikmati perjalanan, setelah makan dan merapikan barang – barang aku langsung beranjak tidur. Mungkin banyak hal – hal yang tidak aku tulis, namun aku rasa tulisan ini sudah cukup menceritakan pengalaman yang telah aku alami.

…….Ramah Kehidupan Kecamatan Permata Intan, Dan Sejuknya Udara Yang Membelai Pemukiman Desa TumbangLahung, Atau Sungai Yang Menyapa Melintas Di Depan Kekagumanku, Menyamankan Posisi Diantara Belaian Dingin Angin Di Hulu Sungai Barito, Dan Pelukan Malam Bersama Bintangnya, Atau Senyum Manis Bunga - Bunga Desa Yang Kusapa Tadi Pagi, Anggun Dengan Seragam Sekolah Lengkap, Atau Bukit - Bukit Hijau Yang Berselimut Hutan Itu Menghiasi 3 Hari Aku Di Tempat Ini, Bersenjatakan Kamera Pelukis Keabadian, Dan Trail, Si Kuda Besi Berwarna Hijau Itu Aku Arungi Permata Intan, Menghampiri Dusun - Dusun Kecil, Bukit - Bukit Yang Menjulang, Atau Hutan - Hutan Yang Rimbun, Dan Berbagi Waktu Dengan Alam Kalimantan Yang Belum Pernah Kutemui Sebelumnya..........Tumbang Lahung, 8 Juni 2012, Muhammad Fachrul Ryannor
 

IBU, AKU BERSIMPUH


IBU, AKU BERSIMPUH
 Oleh Muhammad Fachrul Ryannor

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Perihal Bentangan Fajar Tak Berpijar
Bahwasanya Anakmu Yang Penuh Jerat
Di Bawah Bayang - Bayang Penyaji Luka

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Maafkan Aku Tak Slalu Kau Tau, Ibu
Aku Sedang Membangun Pondok Kehidupan
Mengumpulkan Lagi Patahnya Tangkai Harapan

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Kaku Melamu Dalam Jelaga Sesalku
Ijinkan Aku Mencium Jelatah Tanganmu
Jari - Jari Perkasa Yang Mengantarku Terbata

Aku Bersimpuh Dalam Rinduku Padamu
Terpudar Oleh Tampakan Asa Menghujam
Kenyataan Tlah Bergurau Dengan Harapku
Tergetir Merindu Waktu Yang Lelah Memadam
 

SAKSI DRAMA


SAKSI DRAMA
Oleh Muhammad Fachrul Ryannor

Langit Meruncing Lekung Ke Ujung Senja
Menjadi Saksi Setiap Episode Drama Ini Kawan
Kita Kesatria Muda Di Pusat Peradaban Hari Ini Bertanya
Untuk Apa Kau Berjibaku Konyol Berebut Kuasa

Kayu - Kayu Berjatuhan Tertebang Dalam Hutan
Menjadi Detik Menegangkan Saat Kita Berpegangan
Namun Dari Menara Gading Kah Kita Akan Bertanya
Kemana Saudara - Saudara Saat Tak Punya Rasa Demi Kuasa

Angin Lembut Bersiul Menyanyikan Tentang Saudara
Mengapa Anda Ada Tanpa Garis Masa, Tanpa Realita, Tanpa Cita Karsa
Sekali Lagi Aku Mengecil Di Pojokan Menara Gading Ini
Maksud Baik Saudara - Saudara Untuk Siapa ????
 

Sistem Pendidikan Nasional


SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL



“Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan dan Negara wajib membiayainya” (Pasal 31 UUD 1945)
Salah satu tujuan didirikannya Negara Indonesia adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Maka, setiap warga Negara berhak mendapatkan pendidikan dan Negara wajib membiayainya.

SEJARAH SINGKAT PENDIDIKAN INDONESIA
Ketika system kerajaan di Indonesia masih mendominasi di abad 15-16, pendidikan telah dikenal oleh masyarakat. Indikasinya bisa kita lihat dengan adanya sekolah budha di jaman sriwijaya. Pendidikan yang diberikan selain menyalurkan ilmu pengetahuan, juga ditujukan untuk melanggengkan kekuasaan para raja dan keturunanya. Pengetahuan tentang system pemerintahan, sastra-budaya, strategi perang, strategi penguasaan sumber-sumber ekonomi dan berbagai pengetahuanbagaimana mempertahankan kekuasaan adalah materi wajib yang diberikan kepada keturunan dan kerabat raja. Sedangkan rakyat biasa (rakyat jelata) tidak mendapatkan kesempatan yang sama dalam penyaluran kesempatan pengetahuan saat itu. kalaupun ada berbagai apresiasi budaya seperti tarian rakyat, hal itu bukanlah hasil transformasi pendidikan kepada rakyat, melainkan wujud pemberontakan rakyat terhadap system budaya yang diskriminatif dan eksploitatif.

FASE KOLONIALISME
Memasuki fase kolonialisme, kesempatan masyarakat dalam mengakses pendidikan masih sangat terbatas. Walaupun pemerintah colonial belanda melahirkan kebijakan politik etis diawal tahun 1900 atau politik balas budi yang didalamnya terdapat edukasi, irigasi dan transmigrasi. Pendidikan tetap tidak diarahkan untuk meningkatkan pengetahuan bangsa Indonesia, tetapi semata-mata untuk memperoleh tenaga kerja rendahan yang akan mengoperasionalkan pabrik-pabrik dan perkebunan modern serta mengisi pos-pos administrasi pemerintahan colonial. Dan sekolah-sekolah tersebut hanya dapat dinikmati oleh sebagian golongan saja- sesuai dengan stratifikasi social pemerintah colonial- hanya orang belanda, eropa, golongan indo, priyayi pribumi (Tuan Tanah) dan golongan asia timur jauh yang bias merasakan bangku sekolah. Berbagai sekolah pun dibuka, mulai dari sekolah keguruan hingga kejuruan. Tahun 1852 berdiri sekolah guru ( kweekschool) pertama di solo. Kemudian disusul dengan pendirian sejumlah sekolah sejenis; dibukit tinggi (1856), probolinggo dan bandung (1866), tanah batu (1862), sekolah dokter jawa (1851) dan dibuka sekolah mantra cacar (1849). Sekolah lain didirikan di tondaro (1873), ambonia (1874), banjarmasin (1875), makasar (1876), padang sidempuan (1879) dan di daerah indo timur.

Sekolah tinggi mulai dibuka di akhir abad 19 dan awal abad ke 20. tahun 1892 didirikan sekolah pamong praja (hoffden scholl) yang kemudian diganti dengan opelding school vor inlandsche ambtendaren (OSVIA) di tahun 1900 di magelang. Tahun 1902 didirikan STOVIA ( scholl tot oplerding van inlandsche artsen) yang kemudian menjadi NIAS (netherland indische artsen school) sebagai enbrio dari fakultas kedokteran. Kemudian disusul dengan rechtschool di tahun 1922 dan menjadi rechthoogen school pada tahun 1924 sebagai embrio dari fakultas hokum Universitas Indonesia. 

FASE PRA-KEMERDEKAAN
Menyadari bahwa pemerintahan colonial sangat diskriminatif dalam penyelenggaraan pendidikan, sebagian kaum pribumi berinisiatif untuk mendirikan sekolah-sekolah bagi masyarakat luas. Tahun 1922, didirikan taman siswa (tamsis) oleh ki hajar dewantara, yang memberikan pendidikan budi pekerti dan semangat kebangsaan. Kyai haji ahmad dahlan juga mendirikan sekolah muhammadiyah kemudian di tahun 1919 sarekat islam mendirikan sekolah yang didirikan oleh alm. Tan malaka di semarang. Bekal ilmu pengetahuan yang dimilik oleh kaum muda terpelajar, menggugah kesadarannya atas penindasan kolonialisme belanda. Kaum muda terpelajar meleburkan dirinya di tengah rakyat dan mengobarkan perlawanan terhadap penjajahan. Keterlibatan kaum muda terpelajar tercermin dengan bangkitnya “pergerakan nasional”. Kum muda terpelajar juga memiliki andil besar didalam lahirnya organisasi-organisasi politik moderen di Indonesia. Kaum muda terpelajar juga mampu membangkitkan semangat kebangsaan dan cinta tanah air melalui peristiwa Sumpah Pemuda ditahun 1928, hingga peranannya didalam proses menuju proklamasi 17 Agustus 1945. Dan pendidikan yang dilakukan oleh kaum muda terpelajar pada saat ini diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat Indonesia atas penindasan dan penghisapan yang dilakukan oleh pemerintah colonial dan menuju Indonesia yang merdeka.

FASE KEMERDEKAAN (ORDE LAMA)

Paska proklamasi 17 agustus 1945, pemerintah berupaya untuk membangun infrastruktur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Indonesia. Tanggal 19 Agustus 1945pemerintah Indonesia mendirikan Balai Perguruan Tinggi RI yang kemudian mendorong berdirinya Universitas Indonesia. Tanggal 19 desember 1949 pemerintah mendirikan Universitas Gadjah Mada. Dua universiotas ini kemudian dikembangkan menjadi lima perguruan tinggi dengan hadirnya ITB (1959), IPB (1963) dan Unair (1964). Sementara UII Jogjakarta yang berdiri tahun 1948 merupakan perguruan tinggi swasta pertama dan paling tua di Indonesia. Sekolah Rakyat (SR), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) juga didirikan. Hal ini untuk membuka akses secara luas kepada masyarakat untuk bersekolah.

FASE ORDE BARU: AWAL KEHANCURAN KEMBALI INDONESIA.

Naiknya rezim fasis otoriter boneka imperialis Orde Baru tidak lantas membuat pendidikan di Indonesia semakin membaik.ditingkat perguruan tinggi, represifitas Negara menjadi ancaman serius atas demokratisasi di kampus. Lahirnya kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Koordinasi Kampus (NKK BKK) yang mengakibatkan pemberangusan terhadap DeMa, pembredelan press mahasiswa, penculikan bahkan pembunuhan ternadap para aktivis. Kampus berada dibawah control Negara lewat Rektorat/dekanat dan senat mahasiswa perguruan tinggi (SMPT). Aktivitas kampus diubah menjadi sekedar hobby seperti hadirnya UKM-UKM musik, olahraga dan lain-lain. Ormas mahsiawa dan pemuda juga dikontrol oleh Negara secara ketat.
Ilmu pengetahuan pada masa ini diarahkan atas nama pembangunan yang sesungguhnya bertujuan untuk menopang kelancaran operasional pereusahaan-perusahaan imperialis dan melanggengkan kekuasaan orde baru. Yang kurikulumnya diarahkan untuk kepentingan pasar.

Seperti, Pengacara diarahkan untuk mengabdi pada uang demi membela penguasa yang korup. Arsitek diarahkan untuk membangun gedung-gedung pencakar langit diatas tanah rakyat yang DIGUSUR. Ekonom diarahkan untuk gencar menerapkan kebijakan pembangunan orde baru yang memperlebar jurang kemiskinan.

FASE REFORMASI : LIBERALISASI PENDIDIKAN.

Pasca jtuhnya rezim otoriter boneka Imperialis orde baru Asoeharto, pendidikan di Indonesia semakin memprihatinkan. Lahirnya PP No. 60 dan 61 tahun 1999 adalah imbas dari keterlibatan Indonesia masuk menjadi keanggotaan WTO ditahun 1999 yang mengakibatkan arusprivatisasi dan pem-BHMN-an kampus-kampus negeri di Indonesia.
World trade Organization (WTO) dalam GATS-nya menyatakan bahwa “pendidikan dan kesehatan termasuk salah satu dari 11 sektor jasa lainya yang akan diperjual belikan”. Disusul dengan lahirnya UU SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional) ditahun 2003 semakin menunjukkan bahwa pendidikan adalah barang yang lux (mewah) yang sangat sulit diakses oleh masyarakat luas. Belum lagi ditambah dengan tidak direalisasikannya anggaran 20% dari APBN dan APBD untuk sector pendidikan oleh pemerintah adalah bukti bahwa pemerintah sudahj tidak memperdulikan sektor pendidikan. 

PENDIDIKAN HARI INI : PENDIDIKAN YANG TIDAK ILMIAH, TIDAK DEMOKRATIS DAN TIDAK DIARAHKAN UNTUK MENGABDI KEPADA MASYARAKAT.

Pendidikan yang tidak ilmiah adalah pendidikan yang tidak berangkat dari kondisi objektif masyarakat Indonesia hari ini. Pendidikan yang mengadopsi teori-teori klasik dari barat mengakibatkan mahasiawa adalah klas tersendiri didalam masyarakat. Pendidikan ketrap dijadikan alat dominasi yang dimanfaatkan untuk penjinakan atau penindasan secara sistematik. Seperti, 
1. Guru atau Dosen menanamkan kesadran yang keliru kepada siswa dengan melkaukan tindakan manipulasi atas sejarah masyarakat Indonesia.
2. Pendekatan dalam pendidikannya bersifat persfektif bukan dialogis.
3. Sekedar transfer nilai /ilmu.
Dibalik megahnya kampus dan mahalnya biaya pendidikan ternyata hak-hak demokratis mahasiswa masih sangat minim. Masih dikekangnya kebebasan berorganisasi di kampus, tidak difungsikan secara maksimal fasiltas yang disediakan, minimnya fsilitas, Pelayanan Tata Usaha yang berbelit-belit serta tidak dilibatkannya mahsiswa sebagai unsur mayoritas dikampus dalam setiap pengambilan kebijakan adalah bukti KONGKRET bahwa kampus  hari ini telah merampas hak-hak demokratis kita dikampus!!!!!

Pendidikan yang Ilmiah, Demokratis dan Mengabdi Kepada Rakyat adalah Solusi atas kondisi pendidikan di Indonesia.
Pendidikan haruslah berangkat darikondisi objektif persoalan masyarakat Indonesia dan diarahkan untuk menyelesaikan segala persoalan di negeri ini. Tentunya peran dosen dan mahasiswa itu sama-sama subjek yang berprilaku aktif didalam menganalisa segala persoalan yang ada di negeri ini untuk merubahnya kearah yang lebih baik. Dan kebijakan kampus haruslah berpihak kepada unsur mayoritas di kampus yaitu mahasiswa.

 

SATU SUARA, SATU MUSUH, SATU BARISAN


SATU SUARA, SATU MUSUH, SATU BARISAN

Menunggu Kekosongan Langit Takkan Berjalan,
Kita Yang Takkan Lagi Diam Dibalik Jeruji Pesakitan,
Perihal Ujung Langitan Kepalan Ini Bermuara,
Kita Yang Bersenyawa Dibawah Poster Dan Kain Bendera,
Dan Lembaran Propaganda Penyadaran.....

Bahwa Disiplinya Barisan Ini Bernyawa,
Menolak Perampasan Upah, Tanah Dan Kerja,
Menantang Despot Menari Bersama Tarantula Tentara,
Ekspansi Kepastian Dari Sudut Ketidak Pastian,
Yang Tak Pernah Lelah Berjuang Bersama Garis Jalanan.....

Dibalik Orator Dan ToA Berorasi,
Menuju Sudut Dan Poros Yang Sama,
Di Hadapan Gedung - Gedung Kemunafikan,
Di Hadapan Jelaga - Jelaga Pabrik Neraka,
Yang Datang Menawarkan Hasrat Pembangkangan.....

Bersama Perempuan Mendobrak Diskriminasi Dan Patriarki,
Bersama Tani Menentang Konversi Dan Konservasi Ruang Kelola,
Bersama Buruh Melawan Outsourcing Dan Kontrak Kerja,
Bersama Mahasiswa Menolak Komersialisasi Dan Liberalisasi Pendidikan,
Bersam Kaum Miskin Kota Memerangi Penggusuran Dan Kelaparan,
Bersama Kita Satu Suara, Satu Musuh Dan Satu Barisan.....

Palangkaraya 27 April 2012, Muhammad Fachrul Ryannor
 

Gambaran Untuk Pendidikan Di Indonesia


Gambaran Untuk Pendidikan Di Indonesia

Oleh Muhammad Fachrul Ryannor


Pendidikan adalah suatu kebutuhan yang paling penting dalam kehidupan manusia. Setiap orang tahu, untuk mampu mengembangkan kemampuan diri, seseorang membutuhkan sebuah pembelajaran. Begitu pula di Indonesia, melalui UUD 45 dimana negara berkewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa. Artinya Negara berkewajiban untuk mengembangkan Sumberdaya Manusianya. Namun implikasinya sangat ironis, pada kenyataannya kastanisasilah yang malah terjadi di dunia pendidikan. Dimana dunia pendidikan sekarang semuanya makin tak terjangkau oleh kalangan menegah ke bawah. Kita tengok mulai dari tingkatan SMTA, dimana program BOS yang diterapkan pemerintah tidak mampu sepenuhnya membantu pendidikan masyarakatnya. Di sana masih banyak terdapat pungutan - pungutan yang membebani orang tua siswa. Belum lagi program tersebut tidak merata di setiap daerah. Selain BOS, ada lagi program RSBI atau Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, pada sekolah yang melaksanakan program ini pada umumnya mendapatkan predikat yang lebih daripada sekolah - sekolah biasa lainya. Dimana RSBI akan mendapatkan fasilitas - fasilitas yang lebih baik dan lengkap untuk siswanya. Tetapi, dengan bersekolah di RSBI, siswa akan menanggung beban biaya yang lebih mahal pula. Hal itulah yang menyebabkan terjadinya kastanisasi, dimana pendidikan yang memadai hanya bisa diakses kalangang - kalangan yang mampu, sungguh gambaran pendidikan yang tidak demokratis.

Setelah itu kita tengok di dunia kampus, dunianya para mahasiswa, atau biasa dikenal dgn Perguruan Tinggi. Jalan yang telah dilalui oleh sarjana hingga para insinyur. Istilah ''orang miskin dilarang menjadi sarjana'' bisa jadi benar, karena pada hari ini perguruan tinggi tidak ada yang gratis ataupun murah. Bahkan lebih parah lagi pada hari ini pendidikan seolah menjadi diliberalisasikan, dimana para mahasiswanya dijadikan pasar untuk meraih keuntungan dalam penjualan jasa pendidikan. Hadirnya UU Perguruan Tinggi malam memperparah keadaan, disana ada yang namanya Internasionalisasi pendidikan. Belajar dari RSBI, hal yang sama juga akan diterapkan dalam dunia perkuliahan. Suatu ketika dimana mahasiswa akan membayar harga yang sangat tinggi jika ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik di kampusnya. Yang artinya, hanya mahasiswa mampu saja yang bisa mengenyam pendidikan tersebut.

Pada dasarnya, para ekonom memandang ada 3 sektor kegiatan usaha produksi, yaitu;  Pertama Sektor Primer, Sektor primer merupakan usaha yang mencakup seluruh kegiatan produksi pertambangan dan pertanian. Kedua Sektor Sekunder, Sektor Sekunder mencakup usaha merubah bahan dasar menjadi barang. Ketiga sektor tersier, sektor tersier merupakan kegiatan usaha yang merubah bentuk barang, keadaan manusia dll. Sejalan dgn itu, World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia  memandang pendidikan masuk ke dalam sektor tersier, karena merubah keadaan manusia, dari yang tidak berpengatahuan dan tidak berketerampilan menjadi berpengetahuan dan berketerampilan. Berangkat dari situlah maka pendidikan menjadi jasa yang diperdagangkan dan diperjual belikan. Dengan WTO, setiap negara diharuskan untuk membuka ruang pasar seluas2 bagi seluruh anggotanya.  Indonesia yang sejak 1994 bergabung juga berkewajiban menjadikan dunia pendidikan sebagai pasar jasa guna mengeruk keuntungan dari peserta didikanya.

            Indonesia, Negara yang memiliki 237 juta penduduk dimana 54,42 juta jiwa berusia 18-30 tahun merupakan pasar yang mengiurkan, etalase peroduk jasa yang besar dalam memperdagangkan jasa pendidikan. Untuk lebih meningkatkan ekspor jasa pendidikan tinggi ke negara-negara berkembang, negara – negara imperial melalui General Agreement on Trade in Services (GATS) yang bertujuan untuk memperluas tingkat liberalisasi sector jasa khususnya pendidikan di negara – negara anggotanya agar campur tangan pemerintah atas sector jasa tersebut dihapuskan.

            Indonesia bergabung sebagai anggota WTO pada tahun 1994. Sebagai anggota WTO tentu saja Indonesia memiliki keterikatan terhadap keputusan-keputusan yang disepakati. Oleh karena itu Indonesia wajib mematuhi WTO untuk membuka pasar bebas dalam pendidikan. Keputusan WTO umumnya diambil melalui consensus Negara – Negara anggotanya. Kebijakan neoliberal secara garis besar seperti yang tercantum dalam Washington Concensus yakni : 1) disiplin fiskal, 2) pemotongan segala subsidi sebagai upaya mengurangi defisit anggaran pemerintah, 3) Pembaharuan Pajak, 4) liberalisasi keuangan, 5) nilai tukar yang kompetitif, 6) melenyapkan hambatan penerapan perdagangan bebas, 7) terbuka terhadap investasi asing langsung, 8) privatisasi, 9) deregulasi dan 10) hak paten.
Hal itulah yang menjadi kekuatan lahirnya otonomi serta mandiri dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan. Dengan sitem pendidikan yang otonom maka lahirlah praktek komersialisasi dengan memberi kekuasaan dan kebebasan bagi institusi pendidikan untuk menentukan tariff layanan serta mencari sumber pendanaan secara mandiri. Disinilah maka peran Negara meminimalisir tanggung jawabnya dalam menciptakan kesejahteraan dan terjaminnya warga negaranya mendapatkan hak-haknya. Sedangkan Negara akan maksimal berperan dalam ranah melayani kepentingan – kepentingan imperialism dibawah pimpinan AS melalui berbagai kebijakan dalam bentuk perundang – undangan ataupun kerjasama – kerjasama.
           
            Akibatnya ekspektasi kita tentang pendidikan yang demokratis, pendidikan yang mampu dijangkau oleh semua kalangan menjadi buram oleh kepentingan – kepentingan Negara asing. Sekolah – sekolah, kampus – kampus bagaikan pasar, peserta didik diperankan sebagai konsumen dan penyelenggara berperan sebagai produsen oleh Negara pada hari ini. Indonesia dengan 237 juta penduduknya dipaksa menjadi etalase pasar, dan dijerat dengan berbagai harga – harga kebutuhan termasuk pendidikan.






 

Pelangsir, Mari Kita Bicarakan Makhluk Yang Satu Ini

Pelangsir, Mari Kita Bicarakan Makhluk Yang Satu Ini


Pelangsir biasanya adalah mereka yang membeli minyak di SPBU dan dijual lagi secara eceran. Di Indonesia pelangsir bisa dikatakan meresahkan, sebab jatah minyak di SPBU banyak dimakan olehnya, selain itu mereka juga digadang – gadang bertanggung jawab atas antrian – antrian di SPBU ( katanya sihh… ). Tapi kita tidak dapat begitu saja menelan  mentah – mentah hal itu. Kita tidak boleh begitu saja menyalahkan para pelangsir – pelangsir tersebut.

Di Kota, bagaimana jika saya tidak sempat ke SPBU untuk membeli minyak ???? Warung di pinggir – pinggir jalanlah jawabannya. Lantas darimana  warung tersebut mendapatkan minyak ??? yaaa melangsir. Bukan hanya keuntungan mereka, tapi kita bisa lihat jasanya untuk mendistribusikan BBM. Bayangkan jika saya kehabisan bensin dan sedang berada jauh dari SPBU, apakah saya akan memaksakan diri mendorong motor saya ke SPBU ?? Tidak !! Warung dan langsirannya lah yang berjasa. Jadi mereka bukan hanya berdagang barang, tapi juga jasa. ( siapa sih yang tidak butuh jasa ??? ).
Berikutnya adalah ketika kita berada dalam desa – desa ataupun pelosok – pelosok negri terdalam ( lebay !! ). Sering ditemui harga minyak eceran yang selangit. Dari Rp. 8.000,- sampai pada Rp. 20.000,- per liter. Ulah siapa ??? Pelangsir ?? lagi – lagi Tidak !!, mereka hanya berusaha menyalurkan minyak ke sana. Jika ingin mencari kambing hitam disini jelaslah pemerintah kita pada hari ini. Kenapa ada pelangsir, kenapa minyak di pelosok mahal ??? itu adalah bukti bahwa pendistribusian minyak pada hari ini tidak merata. Jika hanya mengandalkan SPBU dan lainnya, kebanyakan paling jauh dari rumah dinas gubernurnya hanyalah sampai pada ibukota kecamatan, itupun cuma sebagian. Jadi jangan heran jika pelangsir merebak dan mahalnya minyak di desa – desa terpencil.

Ironisnya, ketika pendistribusian minyak tidak merata, kenapa bahan bakar perusahaan – perusahaan atau korporasi –korporasi para pemodal tetap berjalan baik. Hal itu bisa dilihat dari tetap lancarnya aktivitas – aktivitas perusahaan – perusahaan tersebut. Jelas sekali selain menjadi feodalisme dengan menguasai tanah dengan skala besar, mereka juga memonopoli jatah – jatah minyak. Sebab begitu mudahnya mereka mendapatkan distribusi minyak bagi kepentingan usahanya, sedangkan Negara tidak mampu ( atau tidak mau ) mendistribusikan dengan baik untuk masyarakatnya.

Jika ingin pelangsir tersebut dikurangi atau ditiadakan. Bukanlah dengan cara menangkap atau mengintimidasi mereka. Sebab, bereka juga sedikit banyaknya berjasa. Yang paling harus di perbaiki adalah pendistribusian minyak yang merata ke seluruh daerah. Sehingga wilayah – wilayah terpencil tidak lagi perlu susah – susah melangsir aau membeli minyak dengan harga yang selangit. [Amank]

 

Pendidikan Tak Mampu Memberi Solusi

Pendidikan Tak Mampu Memberi Solusi

Oleh Muhammad Fachrul Ryannor

 “Kamu Sekolah mau jadi apa ???”, Mungkin pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang tidak salah dari seorang Orang tua kepada anaknya. Sebuah keraguan disampaikan oleh orang tua melalui sebuah pertanyaan kepada anaknya. Kadang hal seperti itu sering terjadi di antara kita. Terutama di Negara Indonesia. Karena pada faktanya pendidikan yang seharusnya mampu menempatkan suatu persoalan menjadi objektif dan bisa menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi lingkungannya jarang didapatkan oleh masyarakat Indonesia.
  Bayangkan saja di abad yang katanya sudah modern ini banyak petani – petani di desa masih bergelut dengan alat – alat tradisional untuk bertani, sedangkan para peserta didik yang telah bergelut di dunia pendidikan seperti pertanian, teknologi dan lain sebagainya tidak begitu terlihat partisipasinya dalam Pertanian Kerakyatan di Indonesia. Bahakan bisa kita lihat di media – media banyak para ahli Teknologi yang berhasil menciptakan robot – robot, mobil dan penemuan lainnya tapi sangat jarang penemuan – penemuan tersebut merupakan hal yang bisa menjawab keterbelakangannyaPertanian saat ini. Maka dari itulah terkadang seorang Orang tua meragukan anaknya untuk bergelut di dunia pendidikan lebih jauh. Sebab apa yang dihasilkan oleh pendidikan hari ini tidak banyak memuaskan masyarakat Indonesia. Masih terdapat banyak lagi contoh lainnya, seperti permasalahan para nelayan yang menggunakan Pukat Harimau untuk menangkap ikan, atau para petani yang membuka lahan dengan cara membakar. Hal tersebut  biasanya menjadi subjektif dimata kita, karena yang disalahkan selalu mereka para Nelayan atau Petani yang melakukannya. Sedangkan pendidikan hari ini tidak mampu menjawab kelemahan mereka tersebut.
            Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, bisa kita lihat pola dan konten pendidikan merupakan Urban Oriented.Sekolah seolah mendidik anak untuk menjadi seorang urban. Hal tersebut bisa kita lihat dari konten di setiap materi belajar yang lebih banyak mengacu kepada kehidupan kota. Pola didik tersebut seolah menjauhkan sang anak dari alam dan lingkungan tempat ia tinggal. Contohnya anak seorang petani, jika sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA, pola pikirnya kedepan sudah tidak lagi mengacu kepada Pertanian yang dimiliki orang tuanya. Sehingga sulit untuknya sendiri menjawab persoalan persoalan yang sedang dihadapi lingkungannya.
            Pendidikan seharusnya mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia yang objektif menempatkan suatu masalah dan berani menawarkan solusi yang tepat. Dibutuhkan konten dan pola pendidikan yang baik dan mendekatkan si anak kepada alam dan lingkungan sekitarnya. Juga tidak selalu mengarah kepada konten – konten urban yang hanya akan membuat anak tersebut jauh dari alam dan lingkungannya. 

 
Umur Bukan Rintisan Angka, Tapi Ukiran Aksara....