Pendidikan Tak Mampu Memberi Solusi
Oleh Muhammad Fachrul Ryannor
“Kamu Sekolah mau jadi apa ???”, Mungkin pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan yang tidak salah dari seorang Orang tua kepada anaknya. Sebuah keraguan disampaikan oleh orang tua melalui sebuah pertanyaan kepada anaknya. Kadang hal seperti itu sering terjadi di antara kita. Terutama di Negara Indonesia. Karena pada faktanya pendidikan yang seharusnya mampu menempatkan suatu persoalan menjadi objektif dan bisa menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi lingkungannya jarang didapatkan oleh masyarakat Indonesia. Bayangkan saja di abad yang katanya sudah modern ini banyak petani – petani di desa masih bergelut dengan alat – alat tradisional untuk bertani, sedangkan para peserta didik yang telah bergelut di dunia pendidikan seperti pertanian, teknologi dan lain sebagainya tidak begitu terlihat partisipasinya dalam Pertanian Kerakyatan di Indonesia. Bahakan bisa kita lihat di media – media banyak para ahli Teknologi yang berhasil menciptakan robot – robot, mobil dan penemuan lainnya tapi sangat jarang penemuan – penemuan tersebut merupakan hal yang bisa menjawab keterbelakangannyaPertanian saat ini. Maka dari itulah terkadang seorang Orang tua meragukan anaknya untuk bergelut di dunia pendidikan lebih jauh. Sebab apa yang dihasilkan oleh pendidikan hari ini tidak banyak memuaskan masyarakat Indonesia. Masih terdapat banyak lagi contoh lainnya, seperti permasalahan para nelayan yang menggunakan Pukat Harimau untuk menangkap ikan, atau para petani yang membuka lahan dengan cara membakar. Hal tersebut biasanya menjadi subjektif dimata kita, karena yang disalahkan selalu mereka para Nelayan atau Petani yang melakukannya. Sedangkan pendidikan hari ini tidak mampu menjawab kelemahan mereka tersebut.
Hal tersebut bukanlah tanpa sebab, bisa kita lihat pola dan konten pendidikan merupakan Urban Oriented.Sekolah seolah mendidik anak untuk menjadi seorang urban. Hal tersebut bisa kita lihat dari konten di setiap materi belajar yang lebih banyak mengacu kepada kehidupan kota. Pola didik tersebut seolah menjauhkan sang anak dari alam dan lingkungan tempat ia tinggal. Contohnya anak seorang petani, jika sudah mengenyam pendidikan hingga tingkat SMA, pola pikirnya kedepan sudah tidak lagi mengacu kepada Pertanian yang dimiliki orang tuanya. Sehingga sulit untuknya sendiri menjawab persoalan persoalan yang sedang dihadapi lingkungannya.
Pendidikan seharusnya mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia yang objektif menempatkan suatu masalah dan berani menawarkan solusi yang tepat. Dibutuhkan konten dan pola pendidikan yang baik dan mendekatkan si anak kepada alam dan lingkungan sekitarnya. Juga tidak selalu mengarah kepada konten – konten urban yang hanya akan membuat anak tersebut jauh dari alam dan lingkungannya.
0 comments:
Post a Comment