SEJARAH KITA
BELUM BERUBAH
Oleh Muhammad
Fachrul Ryannor
Sejarah
kita belum berubah, mungkin kata itu yang tepat menggambarkan keadaan Indonesia
pada hari ini. Sebuah fakta dimana kita masih tunduk dibawah penindasan dan
penghisapan Negara – Negara maju, penjajah. Biasanya mereka dapat dikenal
dengan sebutan Negara kolonialisme, kapitalis monopoli atau imperialisme.
Penjajahan
hari ini sedikit berbeda jika dibandingkan penjajahan yang dilakukan Belanda
dahulu. Pada zaman dahulu kolonialisme Belanda langsung mendirikan pemerintahan
di wilayah jajahannya, di Indonesia mereka mendirikan pemerintahan
Hindia-Belanda. Tujuannya jelas, mereka datang bukan sekedar mendirikan
pemerintahan, tapi lebih dari itu, mereka datang untuk mengeruk sumber daya
alam (rempah – rempah) dan memeras sumber daya manusia (tenaga kerja), beberapa
yang kita kenal adalah sistem tanam paksa dan kerja rodi.
Pada
hari ini, Imperialisme dibawah pimpinan Amerika Serikat melanggengkan bentuk
penjajahan yang sedikit berbeda. Untuk melancarkan kepentingannya, imperialisme
memasang pemerintahan boneka di negeri jajahannya. Hal itu dilakukan dengan
cara membentuk undang – undang atau membuat berbagai kesepakatan dan organisasi
internasional (WTO, IMF, World Bank, GATS, REDD dsb). Hal ini semakin jelas ketika Eva Kusuma
Sundari, anggota DPR RI yang membeberkan bahwa 76 undang – undang produk DPR
ataupun usulan dari pemerintah merupakan pesanan asing. Tujuannya tak berbeda
dengan apa yang dilakukan oleh Belanda, bisa kita buktikan jutaan hektar
perkebunan sawit di Kalimantan, lubang – lubang tambang batu bara, emas ataupun
minyak semua dikuasai oleh pihak – pihak asing. Orang –orang pribumi justru
hanya menjadi penonton atau yang sedikit beruntung menjadi tenaga kerja murah
di pabrik – pabrik, perkebunan – perkebunan dan lubang – lubang tambang.
Demikian
pula dengan dunia pendidikan, sejak Indonesia tergabung dalam World Trade
Organization (WTO) dan meratifikasi Genral Agreement Trade Services (GATS)
pendidikan kembali ke dalam jurang kelam. Arus komersialisasi dan privatisasi
pendidikan semakin deras mengalir. Pendidikan tinggi mulai tidak demokratis
karna hanya bisa dinikmati oleh orang – orang yang berduit saja. Tidak ada
bedanya jika kita menilik sejarah pendidikan di Indonesia. Pendidikan hari ini
sama saja dengan pendidikan yang diterapkan Belanda pada masa kolonialnya dulu.
Pada
awal abad ke 20, Ratu Wihelmina dari Belanda menerapkan politik etis atau
politik balas budi dalam kebijakan yang disebut trias politika yang diantaranya
terdiri dari: Edukasi, Irigasi dan Emigrasi. Pendidikan menjadi program utama
dari kebijakan tersebut. Namun, pada praktiknya pendidikan yang dilaksanakan
hanya membentuk tenaga kerja terdidik, bukan untuk mencerdaskan kehidupan
bangsa. Mahalnya biaya pendidikan membuat sekolah – sekolah hanya dinikmati
oleh kaum priyayi, anak tuan tanah atau keturunan ningrat/kerajaan. Materi
pendidikan yang diberikanpun sangat jauh dari kepentingan rakyat Indonesia.
Peserta didik diarahkan menjadi tenaga – tenaga kerja murahan, mandor – mandor
di pabrik, perkebunan atau pertambangan serta mengisi pos – pos administrative
pemerintahan Belanda. Secara tidak sadar mereka dibentuk sebagai orang – orang
yang membantu penjajahan Belanda di negaranya sendiri.
Tidak
jauh beda dengan pendidikan pada hari ini, sejak tergabungnya Indonesia ke
dalam WTO dan meratifikasi GATS yang di dalamnya terdapat 12 komuditas jasa
yang diperdagangkan, beberapa yang kontroversial diantaranya adalah pendidikan
dan kesehatan. Tujuan imperialism dalam mendominasi pendidikan di Negara jajahannya
adalah mendapatkan berbagai keuntungan seperti hasil temuan terapan yang dapat
mendukung industry mereka, mendapatkan keuntungan finansial dari penarikan
biaya pendidikan, dan yang tidak kalah penting adalah dominasi atas kebudayaan Negara
jajahannya dalam bentuk teori – teori, ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sesungguhnya bertentangan dengan kepentingan rakyat. Hal tersebut berakibat
kepada mahalnya biaya pendidikan yang jelas menyebabkan pendidikan hanya mampu
dukenyam oleh orang – orag yang berduit saja. Bisa kita bayangkan jika seorang
anak buruh yang gaji orang tuanya hanya berkisar 1 sampai 2 juta, pendidikan
yang layak hanya tinggal mimpi.
Meskipun
telah memproklamirkan diri sebagai Negara yang merdeka di tahun 45, hal itu tak
lantas membuat Indonesia terbebas selamanya dari belenggu jajahan. Hingga saat
ini sejarah itu telah berulang, Indonesia kembali berada dibawah dominasi
asing. Sejarah Itu Belum Berubah…………………..
Terkubur
orang – orang yang sepanjang hidupnya memburuh,
Terhisap
dan menanggung hutan,
Di
sini.
Gali
– gali,
Tukang
becak,
Orang
- orang kampung ,
Yang
berjasa di setiap pemilu,
Terbaring,
Dan
keadilan masih saja hanya janji,
Di
sini,
Kubaca
kembali,
Sejarah
kita belum berubah !”
(Wiji Thukul)

0 comments:
Post a Comment